“Aku suka sekolah.” Hanya sedikit kalimat yang bisa lebih indah dari
ungkapan itu. Karena jika anak sukses di lingkungan pendidikan, besar
kemungkinan dia juga sukses di dunia luar. Itulah sebabnya tanda-tanda
awal permasalahan di sekolah (mengeluhkan guru, laporan kenakalan anak)
dapat menekan tombol panik Anda. Kami membantu Anda mengatasi tantangan
paling berat di sekolah.
1. Anak bersikeras bahwa gurunya membenci dia.Jika
kelas sudah berjalan selama beberapa hari, hati-hati mengomentari
keluhan anak dan tekankan hal positif. Seusai sekolah, tanyakan, “Apa
hal terbaik tentang sekolah hari ini?” bukan “Kamu lebih menyukai Ms.
Gray hari ini?” Jika keluhan anak berlanjut hingga lebih dari satu
minggu, buat janji pertemuan dengan sang guru untuk mendiskusikan
keluhan anak, kata Sara Leef, konselor sekolah dasar di Brookline,
Massachusetts.
Ya, ini bisa menjadi topik sulit untuk dikemukakan
dengan guru karena terasa begitu pribadi, tapi jika tidak diungkapkan,
“perasaan itu cenderung tumbuh menjadi masalah yang lebih besar, yang
semakin sulit dipecahkan dengan tuntas,” jelas Leef. Sebelum Anda
bertatap muka, secara santai persiapkan beberapa contoh keluhan anak
yang menggambarkan mengapa dia merasa gurunya abai terhadapnya. Dan
cobalah bersikap tenang saat memasuki ruang kelas agar Anda bisa fokus
menyelesaikan masalah tersebut melalui kerja sama. Anda mungkin bisa
memulai pembicaraan dengan kalimat, “Untuk beberapa alasan, anak saya
merasa Anda tidak menyukai dia. Saya yakin dengan kita duduk bersama dan
bicara, kita bisa menyelesaikan masalah ini.”
2. Anak Anda pulang di hari pertama sekolah dengan kecewa karena ranselnya kurang keren.Mungkin
Anda ingin si kecil pergi ke sekolah dengan tas ransel biru polos (tas
dengan konstruksi kuat yang Anda suka, tanpa banyak hiasan konyol).
Wahai orang tua, anak Anda tidak lagi berada di
preschool.
Penting bagi si anak SD untuk memilih perlengkapan sekolah
sendiri–bahkan hingga hal terkecil seperti buku dan pensil–untuk alasan
yang masuk akal. Mengapa? “Anak usia itu ingin diterima agar dia merasa
aman,” kata Barbara Micucci, konselor sekolah dasar di King of Prussia,
Pennsylvania.
Jika Anda sudah membolehkan anak memilih sendiri
ranselnya dan sekarang dia tidak senang dengan pilihannya, minta dia
menjelaskan alasannya. Jika dia sekadar menginginkan tas ungu bukan tas
merah, mungkin Anda bisa memertahankan pendapat Anda, dengan
mengingatkan kembali bahwa dia suka warna merah dan karena itu dia
memilih tas merah. Namun jika ada masalah yang lebih besar terkait
aktivitas sekolah–misalnya, ransel anak Anda tidak dilengkapi kantong
khusus untuk wadah botol minum seperti tas milik teman satu
kelasnya–katakan bahwa Anda akan memikirkan hal itu. Masalah seperti itu
biasanya menghilang dalam beberapa hari, tapi jika isu tersebut terus
mengganggu anak, mungkin Anda perlu berkompromi.
3. Semua anak kelas 1 sudah bisa membaca kecuali, tampaknya, anak Anda.Si
kecil melaporkan bahwa dialah “satu-satunya” anak yang tidak membaca
buku cerita sendiri. Benarkah? “Meskipun hanya sedikit anak yang sudah
bisa membaca mandiri, jika anak-anak itu adalah teman si kecil, dia
merasa semua anak bisa membaca,” kata guru kelas 1 SD, Heather Bailey,
dari St. Louis. Masalah bisa semakin sulit jika teman satu kelas sudah
membaca buku cerita panjang karena anak-anak melihat transisi dari buku
bergambar ke buku cerita panjang sebagai sebuah pencapaian besar. Namun,
Bailey mengatakan, anak kelas 1 SD pada umumnya belum bisa membaca buku
teks panjang hingga akhir tahun ajaran.
Khawatir anak Anda tidak
berada di jalur yang benar? Diskusikan dengan guru kelas. Demi
meningkatkan percaya diri anak seputar kemampuan membaca, beri pujian
bahkan untuk pencapaian terkecil sekalipun dan bacakan cerita untuk si
kecil. “Riset membuktikan anak yang dibacakan buku selama 15 menit
setiap hari akan tumbuh menjadi pembaca yang lebih baik dibandingkan
anak yang tidak dibacakan buku,” kata Bailey.
Terakhir, jadikan
pelajaran membaca sebagai keceriaan sehari-hari: Anda bisa bermain “Aku
melihat sesuatu yang diawali huruf F (atau A atau C),” sambil berkendara
ke tempat les karate. Atau tanyakan kepada guru kata-kata apa yang
perlu dipelajari anak, lalu tempelkan satu atau dua kata di pintu
kulkas. Katakan bahwa kata itu adalah kode rahasia yang harus dipecahkan
sebelum membuka lemari es untuk mengambil camilan.
4. Anak mengeluh karena dia tidak punya teman bermain saat istirahat.Tunjukkan
empati tapi gunakan bahasa yang netral agar tidak menjadi masalah yang
lebih besar bagi anak, saran Christine Brennan, guru TK di Dobbs Ferry,
New York. Cobalah, “
Wow, tampaknya kamu bermain sendiri. Apa yang kamu mainkan?”
Ingat
bahwa di awal-awal masa sekolah, anak-anak biasanya tidak mengucilkan
seseorang dengan sengaja. Anak-anak yang bermain petak jongkok mungkin
tidak menyadari jika anak Anda ingin bergabung. Maka ajari si kecil
untuk berkata, “
Hey, bolehkah aku ikut bermain?” Bisa juga
teman sekelasnya bermain otoped setiap hari tapi anak Anda lebih
tertarik bermain lompat tali–dan dia menginginkan seseorang untuk
bermain bersama. Untuk kasus itu, katakan bahwa saat dia menuju arena
lompat tali, dia mungkin bertemu seseorang yang juga menyukai permainan
tersebut.
Si kecil masih mengeluh? Minta pengawas sekolah untuk
memantau anak Anda di taman bermain, saran Leef. “Mungkin Anda akan
mendapat laporan bahwa anak Anda tampak marah, berjalan mengitari taman
dengan tangan bersedekap, membuat anak-anak lain ragu mendekati dia.”
Lalu Anda bisa meminta si pengawas membantu si kecil mencari sekelompok
teman bermain.
5. Anak Anda mendapat catatan dari guru TK karena melanggar aturan.Transisi,
transisi! Dari karpet ke meja, dari meja ke antrean, antrean ke makan
siang, makan siang ke waktu bermain, waktu bermain ke jam istirahat.
Preschool
umumnya tidak mengharuskan anak mengerjakan tuntutan yang ada di TK,
dan menyesuaikan diri terhadap keseharian yang terstruktur kerap
menimbulkan masalah perilaku, kata Robin Davis, guru TK di San
Francisco. Mengapa? Anak-anak belum berpikir jangka panjang; jika si
kecil sedang asik menyusun balok di waktu istirahat, dia tidak mau
berhenti untuk mengantre di perpustakaan.
Bagaimanapun, jika anak
Anda dipanggil karena melanggar aturan–termasuk perilaku agresif
seperti memukul atau membangkang–dan tidak mau mematuhi petugas sekolah,
buat janji bertemu dengan guru, meskipun anak Anda baru satu kali
melakukan pelanggaran. Mungkin Anda juga punya sesuatu untuk diungkapkan
(misalnya keberadaan adik bayi atau Anda baru kehilangan pekerjaan)
sehingga guru punya pemahaman latar belakang masalah perilaku anak. Anda
dan pihak sekolah bisa mencari pola dan membuat rencana disiplin. Jika,
misalnya, anak Anda cenderung “bertingkah” di penghujung sesi prakarya,
tanyakan kepada guru seputar kemungkinan melakukan pendekatan ekstra
untuk membantu si kecil. (“Owen, kamu punya waktu sedikit lagi sebelum
kita membereskan peralatan ini.”) Juga cari tahu petunjuk transisi yang
digunakan guru di kelas. Jika dia menepuk tangan dan berkata, “Satu,
dua, tiga, pandangan mata ke arah saya,” lakukan hal yang sama di rumah
agar anak semakin akrab dengan petunjuk tersebut, kata Micucci.
Terakhir, tanyakan guru apakah dia bersedia berkontribusi di “tabel
stiker” yang Anda simpan di ransel anak, saran Micucci. Untuk satu hari
kepatuhan di sekolah, dia mendapat satu stiker. Di rumah, dia bisa
mendapat stiker lagi jika mau mengikuti aturan. Hal itu menunjukkan
bahwa bersikap baik sama pentingnya di rumah dan di sekolah.
6. Si penggencet menyasar anak Anda.Penggencetan atau
bullying adalah salah satu kekhawatiran terbesar orang tua saat anak kembali ke sekolah, menurut survey
Parents-Lands’
End belum lama ini. Namun sebelum Anda menghubungi sekolah dan memberi
label penggencet kepada seorang anak, ingat bahwa hal itu sama seperti
mengucapkan kata “bom” di bandara. Kata itu punya arti serius–memang
sudah seharusnya demikian–sehingga Anda perlu menguji tuntas terlebih
dulu. “Kami mendefinisikan penggencetan sebagai kekerasan berulang yang
dilakukan oleh satu anak terhadap anak lain, tanpa perimbangan kekuatan
dan tidak ada alasan melakukan hal itu,” kata Leef.
Bullying adalah satu anak mengintimidasi anak lain, baik itu secara fisik, mental, atau keduanya.
Ingat
bahwa jika anak Anda punya konflik dengan teman sekelas karena mereka
berdua bersaing di kelas senam atau punya karakter keras kepala, itu
bukan penggencetan. (Anda bisa membantu mereka berbaikan dengan meminta
penasihat sekolah mengadakan sesi mediasi di antara mereka hingga
masalah terpecahkan.) Satu cara bagus untuk mengidentifikasi
bullying:
Tanyakan kepada anak apakah dia tidak keberatan berbicara dengan si
teman, kata Leef. “Jika dia menjawab, “Aku mau bicara dengan dia,” itu
bukan penggencetan. Bicara penggencetan, ada faktor ketakutan yang
jelas. Anak akan takut berinteraksi dengan si penggencet.”
Dalam
kasus penggencetan, petugas sekolah akan memutuskan cara mendisiplinkan
si penggencet–dan cara melindungi anak Anda. Untuk menjaga anak agar
tidak menjadi korban penggencetan, beri dia kekuatan dengan cara
mengajari bahasa tubuh dan perkataan yang asertif, kata Micucci. Dengan
permainan pura-pura, minta anak berdiri tegak, menyilangkan kedua tangan
dan berkata, “Stop. Kamu tidak boleh melakukan itu,” sebelum pergi dan
mencari bantuan orang dewasa.
7. Anak Anda terus mendatangi klinik sekolah. Apakah dia benar-benar sakit?“Jika
ada anak yang sakit perut, saya minta dia pergi ke toilet; itu kerap
membantu,” kata Jamie Nedwick, gru kelas 1 SD di Hasting-on-Hudson, New
York. Jika perawat sekolah memanggil, pastikan dia sudah melakukan
kunjungan ke toilet. Tidak demam, muntah, atau diare? Anak Anda mungkin
dibolehkan kembali ke kelas; jika demikian, bicaralah dengan anak dan
katakan Anda akan memeriksa saat Anda datang menjemput. Untuk menguji
kebenaran sakit, ingatkan anak bahwa anak yang terlalu sakit untuk pergi
ke sekolah artinya terlalu sakit untuk bermain bersama teman-teman.
Jika dia tidak peduli, mungkin sebaiknya Anda membawa dia pulang.
Juga
periksa emosi anak. “Anak yang sering datang ke klinik dengan keluhan
sakit perut dan sakit kepala cenderung merasa cemas,” kata Leef. “Anak
jarang mengatakan “Aku takut matematika,” sehingga mereka memilih pergi
ke klinik dengan keluhan sakit perut di setiap jam pelajaran
matematika.” Jika Anda mencium kecemasan, lakukan perbincangan segitiga
dengan guru dan perawat untuk mencari jalan keluar bersama.
8. Anak Anda tidak mau membicarakan harinya.Sebagian anak, apalagi anak-anak
introvert,
mungkin tidak suka memberi laporan, terutama di penghujung hari sekolah
yang panjang. Tenangkan diri Anda. Hanya karena anak tidak mau bicara,
bukan berarti dia tidak bahagia. Urungkan pembicaraan saat berkendara
pulang ke rumah, dan tunggu hingga usai makan malam untuk memancing dia
bercerita. Micucci menyarankan Anda menjadikan si kecil sebagai
kontestan di tayangan pribadinya. Katakan, “Dalam skala 1 sampai 10,
dengan 1 adalah menjengkelkan dan 10 luar biasa, berapa kamu menilai
harimu di sekolah tadi?” Jika anak memilih 8, tanyakan, “Apa yang
membuat nilai menjadi 8?” Anda juga bisa mencoba aktivitas santai agar
anak mau bicara secara alami. “Ketika anak datang ke kantor saya, kami
jarang sekadar bicara,” jelas Leef. “Kami menggambar atau bermain
board game. Dalam sepuluh menit, seorang anak akan mengisahkan cerita kehidupannya.” [
Oleh Mindy Walker]
Sumber : http://parentsindonesia.com/